Kronologi Perundungan Pegawai KPI – Kasus perundungan terjadi di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Di duga korban sudah mengalami perundungan ini sejak tahun 2011 silam dimana pada saat itu korban masih status sebagai pegawai baru disana. Kasus itu bermula ketika korban mulai bekerja disana, ketika baru masuk kerja korban di duga kerap kali mengalami intimidasi, di hina, di caci, bahkan di jadikan budak oleh seniornya yang berada disana.

Korban bergabung disana sejak tahun 2011 silam dan korban mulai mengalami perundungan ketika awal masuk sampai tahun 2014. Hingga puncaknya ketika tahun 2015korbanmengaku tidak hanya mengalami perundungan namun juga korban mengalami pelecehan seksual hal itu tentu saja membuat korban mengalami trauma hingga korban langsung mengadukan semua hal yang korba alami ke Komnas HAM.

Namun ketika korban memilih untuk mengadukan kasus perundungan dan pelechan sesual yang korban alami ke Komnas HAM korban hanya dianjurkan untuk melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian.

Kronologi Perundungan Pegawai KPI

Karena merasa ragu korban akhirnya memutuskan untuk menunda melaporkan kasus yang dia alami ke pihak kepolisian, pada tahun 2016 korban sempat dikabarkan sering jatuh sakit akibat mental down dan trauma yang korban alami.

Seiring berjalannya waktu korban masih saja mengalami perundungan yang dilakukan oleh para seniornya dan hal itu membuat korban akhirnya memilih melaporkan kasus yang dia alami ke pihak kepolisian.

Pada tahun 2019 korban mengadukan semua kasus yang dkorban alami ke Polsek Gambir namun pada saat itu polisi justru meminta agar korban dapat menyelesaikan kasusnya secara internal terlebih dahulu di kantornya.

Pada tahun 2020 korban kembali mencoba melaporkan kasusnya ke pihak kepolisian tapi hasilnya masih sama, korban masih belum merasa mendapatkan keadilan, hingga pada tahun 2021 ketika pengakuan korban viral di media sosial akhirnya pada tanggal 1 September 2021 korban kembali melaporkan peristiwa yang di alaminya ke Polres Jakarta Pusat dan kali ini korban di dampingi oleh Komisioner KPI dan akhirnya laporan korban kali ini di terima oleh pihak kepolisian.

Dilansir dari laman Zine.id, Komisioner KPI sempat mengaku tidak mengetahui adanya kasus perundungan yang dialami oleh salah satu anggotanya, Nuning Rodiyah hanya mengatakan bahwa korban hanya sempat meminta untuk pindah divisi bukan melaporkan kasus perundungan yang di alaminya.

Setelah mengetahui adanya kasus perundungan tersebut KPI akan melakukan investigas mengenai kasus ini dengan melakukan investigasi internal kepada kedua belah pihak. Selain itu KPI juga akan melakukan evaluasi terhadap sistem kepegawaian yang ada secara menyeluruh.

Pihak KPI juga akan menyiapkan ruang konseling dan pengaduan, hal ini bertujuan untuk jaminan kenyamanan untuk para pegawainya. Nuning juga mengatakan jika delapan orang itu yang tak lain adalah korban dan ketujuh orang yang di duga pelaku telah di bebastugaskan.

Pada hari senin lalu MS selaku korban sudah menjalani proses pemeriksaan di Polres Jakarta Pusat. Korban juga sudah menjalani pemeriksaan psikologis di Rumah Sakit Polri, korban di periksa karena korban di duga mengalami trauma berat atas kejadian yang sudah di alaminya

Pihak kepolisian juga sudah menerima laporan korban mengenai kasus perundungan dan pelecehan yang dialaminya, korban melaporkan 5 orang pelaku dalam kasus ini jauh berbeda dari sebelumnya yang berjumlah 7 orang pelaku.

Namun salah satu terlapor (RM) yang diduga sebagai pelaku mengancam akan melaporkan balik korban dengan tuduhan pencemaran nama baik jika korban tidak segera mencabut laporannya dan memulihkan nama baiknya.

Opsi perdamaian kemudian muncul setelah korban menemui salah satu terlapor dan meminta untuk tidak melanjutkan kasus ini kembali. Pada saat itu terlapor menyetujui opsi perdamaian yang ditawarkan oleh pihak korban dengan syarat korban harus mencabut laporan dugaan pelecehan seksual yang telah dia buat.

Sumber : Zine Id